Hindari Rugi, Pengusaha Warnet Beralih Jadi Game Online
Jakarta - Para pengelola bisnis warung internet (warnet) mengakui hampir sebagian besar sudah beralih ke layanan game online. Langkah ini mengantisipasi kerugian yang harus ditelan oleh pemilik warnet karena adanya pergeseran pasar.
Ketua Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) Irwin Day mengatakan tren tersebut banyak terjadi di kota-kota besar, yang umumnya akses terhadap internet sudah begitu mudah. Menurutnya dipilihnya alternatif layanan game online oleh para anggotanya karena tak semua konsumen bisa memiliki fasilitas personal computer (PC) yang bisa mendukung penggunaan game online.
"Keadaan sekarang kondisinya memang seperti itu mayoritas menjadi tempat game online, memang soal persentasenya saya nggak tahu," kata Irwin kepadadetikFinance, Minggu (25/9/2011)
Ia menjelaskan tak semua anggotanya bermigrasi menjadi layanan game online. Dikatakannya ada juga anggotanya yang membuka dua layanan yaitu layanan koneksi internet dan layanan game online secara terpisah.
Irwin menuturkan tak bisa memastikan apakah fenomena ini sebagai sebuah kemajuan atau kemunduran dari bisnis warnet. Ia mengkui cepat atau lambat bisnis warnet akan terus turun sejalan makin mudahnya semua orang mengakses internet.
"Suatu waktu bisnis warnet akan mencapai titik mengalami penurunan. Ini juga sangat tergantung dengan harga jual internet, terutama harga jual perangkat akses internet seperti HP dan komputer," katanya.
Dari anggotanya yang saat ini kurang lebih mencapai 1000 pemilik internet, Irwin masih yakin bisnis warnet tetap ada walau akan terus turun. Ia tak bisa memungkiri banyak orang yang masih memerlukan dukungan warnet terutama di daerah-daerah yang masih mengalami sulitnya akses internet.
"Jadi adanya game online itu untuk kita tetap bertahan, kalau kita tak mengikuti perubahan bisa mati kita," katanya.
Ia mencontohkan seorang yang memiliki usaha warnet harus mampu bisa balik modal dalam dua tahun. Jika tidak, maka akan sulit mendapatkan margin yang layak, karena pemilik akan banyak dibebani biaya perawatan yang besar, mengingat umur teknis dari PC hanya mencapai 3 tahun.
Dari sisi tarif, pengelola warnet memang cenderung menurunkan tarif mereka terutama di kota-kota besar hingga sampai Rp 2000 per jam dari sebelumnya Rp 3000-5000 per jam. Meskipun tarif warnet di daerah-daerah di luar kota besar masih tinggi hingga Rp 5000 per jam.
"Memang di daerah masih tinggi Rp 5000 tergantung tempat," katanya.
Ia juga mengamini saat ini fakta di lapangan layanan game online banyak dipakai oleh para konsumen anak-anak. Padahal kondisi ini rentan terhadap penyimpangan penggunaan game online meski para pengelola sulit mengontrolnya.
"Ya kalau game online itu anak-anak, agak susah juga nggak ada aturannya kita hanya sebatas mengimbau permainan dewasa jangan sampai dimainkan anak-anak, pemerintah tak mengatur apa-apa kita tak bisa maksa," katanya.





